Rabu, 30 Desember 2015

Apologetika Rasul Paulus

Apologetika Kristen dilanjutkan oleh Para Rasul Yesus Kristus dalam lindungan kasih dan dikontrol iman. 1. Perjumpaan dengan Kristus sebagai dinamika Apologetika Paulus: Oleh Dr. Yonas Muanley, M.Th.
Perjumpaan dengan Yesus Kristus menegaskan bahwa Paulus mengalami keinsafan akan apa yang diperbuat terhadap pengikut Yesus dan meninggalkan perbuatan-perbuatan tersebut atau Paulus mengalami pertobatan. Sebelum bertobat. Paulus bernama Saulus dia adalah orang yang sangat giat melakukan penganiyaan dan membunuh orang Kristen. Dalam Kisah Para Rasul 8:3, Lukas menggunakan kata-kata yang keras untuk menunjukkan kekejaman Paulus yang di luar dari batas prikemanusiaan. Tindakan Paulus menganiaya orang Kristen didasari oleh kebencian Paulus terhadap Yesus dan ajaran-Nya, Yesus menyatakan diri-Nya Mesias dari Allah. Pertobatannya terjadi secara mendadak. Oleh karena itu tepatlah penilian George E. Ladd, yang menyatakan bahwa: pertobatan Paulus terjadi bukan secara berangsur-angsur melalui pengkajian, penyelidikan, perenungan dan perdebatan maupun argumentasi, melainkan terjadi dengan sekejap melalui pengalaman di Damsyik. Melalui perjumpaan Paulus dengan Yesus di perjalanan ke Damsyik terjadi perubahan yang radikal baik pendiriannya, maupun konsep berfikir tentang Tuhan dan kehendak-Nya, yang akhirnya menjadi dasar dalam panggilan Paulus dalam melayani Tuhan. 2. Apologetika Paulus yang berdimensi kontekstual Salah satu kitab dalam Perjanjian Baru yaitu Kisah Para Rasul memberi focus perhatian pada cerita tentang dua tokoh utama yaitu Petrus dan Paulus. Dalam Kis. 22:1 ; 25:16 mengemukakan tentang salah satu kegiatan Paulus dalam mempertanggungjawabkan imannya yaitu apologetika. Selai itu dala suratnya kepada Timotius dalam 2 Timotius 4:16 muncul kata apologetika (pembelaan). Dalam beberapa ayat ini kita mendapati informasi bahwa biassanya ada sebuah kesempatan yang diberikan kepada seorang yang sakit untuk membela dirinya terhadap dakwaan dalam satu perkara. Selanjutnya dalam konteks apologia Paulus, Paulus mengadakan apologetika yaitu ketika Paulus mendapat peluang berbicara kepada Herodes dan Agripa tentang kesempatan yang diberikan kepada Paulus sebagai warga negara Roma untuk memberi jawab atas dakwaan terhadap dirinya. Kata pembelaan atau apologia dapat juga diberi arti sebagai pidato atas pembelaan itu sendiri. Dalam hal ini Pidato Paulus di Yerusalem, maupun pidato yang disampaikan Paulus di hadapan Festus dan Agripa. Salah satu tindakan apologetika Paulus terjadi di Areopagus. Areopagus berasal dari dua kata yaitu Areios dan Pagos. Areios mengacu kepada nama sebuah bukit di Athena dan Pagos adalah bukit itu sendiri, sehingga Areopagus adalah Bukit Pagos. Dalam tradisi orang Yunani, Areopagus adalah tempat sidang, mahkama agung orang Athena atau dewan pengadilan bertemu untuk memutuskan suatu perkara tentang pendidikan, moral, dan keagamaan. Apologetika Paulus di Areopagus: “Hai orang-orang Athena, aku lihat, bahwa dalam segala hal kamu sangat beribadah kepada dewa-dewa” (ayat 22b). la mulai mendekati mereka dengan cara yang sepositif mungkin dan berusaha menghindari konfrontasi. Setelah memuji mereka, ia menemukan suatu jembatan supaya pesan yang disampaikan dapat mencapai sasaran dan sekaligus relevan bagi para pendengarnya: “Sebab ketika aku berjalan-jalan di kotamu dan melihat-lihat barang-barang pujaanmu, aku menjumpai juga sebuah mezbah dengan tulisan: Kepada Tuhan yang tidak dikenal. Apa yang kamu sembah tanpa mengenalnya, itulah yang kuberitakan kepada kamu.” (ayat 23). Paulus menjadikan sebuah mezbah sebagai titik tolak untuk menyampaikan Allah yang tidak mereka kenal. Paulus juga menyampaikan kepada jemaat Korintus tentang apa yang dilakukan Paulus. Paulus menyatakan: Sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang. Demikianlah bagi orang Yahudi aku menjadi seperti orang Yahudi, supaya aku memenangkan orang-orang Yahudi. Bagi orang-orang yang hidup di bawah Hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang hidup di bawah Hukum Taurat, sekalipun aku sendiri tidak hidup di bawah Hukum Taurat, supaya aku dapat memenangkan mereka yang hidup di bawah Hukum Taurat. Bagi orang-orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat aku menjadi seperti orang yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat, sekalipun aku tidak hidup di luar hukum Allah, karena aku hidup di bawah hukum Kristus, supaya aku dapat memenangkan mereka yang tidak hidup di bawah Hukum Taurat. Bagi orang-orang yang lemah aku menjadi seperti orang yang lemah, supaya aku dapat menyelamatkan mereka yang lemah. Bagi semua orang aku telah menjadi segala-galanya, supaya aku sedapat mungkin memenangkan beberapa orang dari antara mereka. Segala sesuatu ini aku lakukan karena Injil, supaya aku mendapat bagian dalamnya.(I Kor. Korintus 9:19-23)

0 komentar:

Posting Komentar