Rabu, 30 Desember 2015

Yustinus Martir

Apologetika Kristen Bertolak dari sabda-Nya dalam Kitab Suci, yaitu Alkitab.
Yustinus Lahir tahun 95 atau 100 Masehi di Samaria atau Flavia Neapolis, Yudea (Saat ini Nablus), dan meninggal dunia pada tahun 165, di Roma, Kekaisaran Romawi. Yustinus sangat dikenal dalam kalangan gereja Inggris Gereja Ortodoks Timur, Gereja Lutheran, dan Gereja Katolik Roma. Yustinus disebut juga dengan sebutan Yustinus dari Kaisarea atau Yustinus sang filsuf. Yustinus juga dikenal sebagai salah seorang penulis Kristen paling terkenal melalui karyanya yakni “ Liber Apologeticus - "Apologi Pertama". Sampai pada akhir hidup Yustinus, yakni mati syahid menjadi martir. Oleh karena itu namanya disebut sebagai Yustinus Martir. Sebagai seorang filsuf, Yustinus aktif mempelajari ajaran-ajaran Stoa (filsafat Stoa), Aristoteles, dan Phytagoras, tetapi akhirnya ia menganut sistem pemikiran (filsafat) Plato. Cara Yustinus menjadi seorang Kristen yakni ketika Yustinus merenungkan isi atau tulisan-tulisan dalam Taurat, membaca Injil serta surat-surat Paulus. Kemudian Yustinus bertemu dengan seorang tua yang bertapa di padang sunyi di Palestina. Orang tua ini mengajarkan kepada Yustinus tentang Kitab Suci, para nabi dalam Perjanjian Lama. Melalui peristiwa ini (pengajaran) Yustinus menemukan bahwa ia menemukan kebenaran sejati dalam agama Kristen. Akibat dari pemahaman ini, dan oleh karya Roh Kudus, Yustinus bertobat menjadi Kristen pada tahun 130. Setelah pertobatannya, Yustinus melaksanakan suatu tugas mulia yaitu mengajar di Efesus. Yustinus memandang pengajaran Kristen sebagai filsafat (kebenaran) yang nilainya lebih tinggi dari filsafat Yunani (kebenaran Yunani). Keterlibatan Yustinus dalam Apologetika Kristen Yustinus setelah bertobat dan dalam perjalanan hidupnya, ia berjuan dalam Perjuangan bagi kekristenan. Di Zamannya, dirinya dan orang-orang Kristen hidup pada masa atau keadaan yang tidak menguntungkan. Yustinus sering melihat bahwa banyak orang Kristen yang dihambat dan dianiaya. Oleh karena rasa keprihatinannya, maka Yustinus mulai mengadakan pembelaan terhadap kekristenan dari serangan yang dilancarkan oleh pemerintah Roma yang tidak beragama Kristen. Apologi Yustinus dilakukan melalui tulisan. "Apologi Pertama", Yustinus tujukan kepada Kaisar Antoninus Pius (dalam bahasa Yunani berjudul Apologia, yaitu suatu kata yang mengacu pada logika yang menjadi dasar kepercayaan seseorang). Dalam apologi yang dilakukan melalui tulisan kepada Kaisar Antonius Pius, Yustinus menyatakan bahwa orang Kristen menuntut keadilan. Jika orang Kristen bersalah, ia harus diadili. Yustinus menolak bila orang Kristen dihukum karena mereka seorang Kristen. Yustinus juga menjelaskan tentang ibadah Kristen dan Perjamuan Kudus, sehingga kecurigaan kekaisaran Roma terhadap orang Kristen sebagai kelompok subversif, amoral, dan kriminal pun terhapus. Seperti Paulus, Yustinus tidak meninggalkan orang-orang Yahudi ketika ia berpaling kepada orang-orang Yunani. Dalam karya besar Yustinus yakni, "Dialog dengan Tryfo", Yustinus menulis kepada seorang Yahudi kenalannya, bahwa Kristus adalah penggenapan tradisi Ibrani. Apologetika Yustinus juga diarahkan pada hal-hal tentang tata ibadah, Baptisan, dan Perjamuan Kudus dalam gereja pada abad ke 2. Apologetikanya tentang ibadah Kristen yaitu bahwa ibadah Kristen dilakukan pada hari Minggu karena Allah beristirahat pada hari ketujuh, dan karena Kristus bangkit pada hari tersebut. Selanjutnya tentang praktek baptisan, Yustinus menyatakan bahwa mereka yang dibaptis adalah mereka yang telah percaya kepada pengajaran Kristen dan yang telah berjanji hidup mengikuti ajaran-ajaran tersebut. Apologetika Yustinus tidak hanya dilakukan melalui tulisan tetapi juga melalui argumentasi dengan lawan iman Kristen. Untuk maksud ini Yustinus mengadakan perjalanan yang cukup jauh. Dalam perjalanannya ia selalu berargumentasi tentang iman yang diyakininya kepada lawan bicara Misalnya di Efesus, Yustinus bertemu dengan Tryfo, di Roma, Yustinus juga bertemu Marcion, pemimpin kelompok Gnostik. Namun pada suatu perjalanannya ke Roma, Yustinus pernah bersikap tidak ramah terhadap seseorang yang bernama Crescens, seorang Cynic. Ketika Yustinus kembali ke Roma pada tahun 165, Crescens mengadukannya kepada penguasa setempat (Roma) atas tuduhan memfitnah. Akibatnya Yustinus ditangkap, disiksa dan akhirnya dipenggal kepalanya bersama-sama enam orang percaya lainnya. Cara mati Yustinus seperti inilah yang kemudian dalam kepercayaan Kristen disebut Martir. Martir dalam iman Kristen adalah mereka yang mati secara tidak wajar karena mempertahankan imannya. Cara tidak wajar yang dimaksud disini, seperti: dipenggal, disalibkan, dirajam dll. (Diadaptasi dari: https://id.wikipedia.org/wiki/Yustinus_Martir, tanggal, 30 Desember 2015) Apologetika Yustinus Martir, Oleh: Dr. Yonas Muanley, M.Th.

0 komentar:

Posting Komentar